9:51 AM

(0) Comments

”It’s Now or Never!”

The Team of Spirit

Oleh: Roy Sembel

It’s Now or Never (Sekarang atau Tidak Sama Sekali). Ini memang seperti judul sebuah lagu Zadul (baca: zaman dulu). Tetapi ternyata kalimat pendek ini mengandung banyak petuah yang bisa kita renungkan dan praktikkan.

Mengapa harus sekarang? Ada banyak manfaat yang dapat kita petik jika kita mau mulai sekarang.
Kesempatan. Every opportunity is a golden opportunity. Tiap kesempatan adalah peluang emas. Kita tidak pernah tahu apakah kesempatan sekarang akan lebih buruk atau lebih baik dari kesempatan berikutnya. Jadi, jika mendapat atau melihat kesempatan untuk mencetak prestasi, meraih keuntungan, ataupun mendapat manfaat positif dari apa yang ditawarkan sekarang, mengapa tidak kita coba? Paling tidak kita tidak akan menyesal karena telah mencobanya. Jika ternyata dugaan kita meleset, kita bisa meraih kesempatan berikutnya. Tapi, jika dugaan kita benar, kita telah berhasil mendapat manfaat dari kesempatan tersebut, dan jika ada kesempatan lain, kita bisa menambah perolehan manfaat dari kesempatan baru lagi.
Selain itu, dengan mengambil kesempatan sekarang, jika ada kesempatan lain berikutnya, kita bisa membandingkan kesempatan yang datang dengan kesempatan yang telah kita manfaatkan, sehingga kita bisa membuat keputusan lebih bijak.
Pengalaman. Pengalaman adalah guru yang paling efektif. Semakin awal kita memulai atau melakukan sesuatu, semakin banyak pengalaman yang bisa kita gali, semakin banyak pula manfaat dan pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman tersebut. Pelajaran dari pengalaman ini tentunya akan sangat berguna bagi kita untuk mengambil keputusan penting di masa yang akan datang. Misalnya: Miftah mendapat kesempatan magang tanpa dibayar di toko pamannya sebagai pemegang buku. Miftah tidak menyia-nyiakan tawaran ini. Walaupun ia tidak "dibayar" dengan uang, ia tidak mempermasalahkannya. Miftah yang baru saja lulus dari akademi perbankan menerima tawaran ini. Sambil bekerja ia juga mengajukan lamaran kerja di tempat lain. Dalam lamaran ini ia menuliskan pengalamannya bekerja sebagai pemegang buku di perusahaan sang paman. Miftah akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan bermodalkan pengalaman kerja satu tahun di perusahaan sang paman. Pengalaman kerja ini menjadikannya kandidat yang lebih baik dari pelamar lain yang belum punya pengalaman kerja.
Uang. Waktu adalah uang. Semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk "menunggu" kesempatan yang baik, semakin banyak potensi untuk mendapatkan "uang" yang terbuang. Misalnya: Manuela kehilangan pekerjaan ketika krisis besar melanda perekonomian Indonesia di awal tahun 2000. Beberapa tawaran pekerjaan sudah diperolehnya, tetapi ia selalu ragu untuk mengambilnya karena gaji tidak sebesar yang diinginkan, tempat terlalu jauh, jenis pekerjaan kurang diminati, atau alasan lainnya. Akibatnya, sampai sekarang pun Manuela masih "menunggu" pekerjaan yang dianggap paling pas untuknya. Padahal jika ia mencoba saja salah satu pekerjaan yang ditawarkan, tentu ia sudah bisa banyak menimba pengalaman, dan yang pasti dapat uang dari hasil kerjanya. Pengalaman ini bisa ia masukkan dalam CV-nya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi di masa mendatang.

”What Now?”
Okay, sekarang kita telah yakin bahwa "sekarang"lah waktu yang tepat untuk memulai sesuatu. Lalu, apa yang harus kita mulai? Masih bingung? Banyak yang bisa Anda lakukan sekarang. Beberapa diantaranya adalah yang berikut.
Kebiasaan Baik. Hasil yang baik diperoleh dari kebiasaan yang baik. Jadi, jika kita ingin meraih sukses, mulailah sekarang untuk membiasakan diri melakukan kebiasaan-kebiasaan positif yang bisa menelurkan sukses. Mungkin saja kebiasaan positif ini pada mulanya sulit dilakukan atau bahkan tidak menyenangkan untuk dilakukan. Namun demikian, bukan senang atau tidak senang yang jadi pilihan, tetapi penting atau tidak penting untuk dilakukan. Prinsip ini juga didukung oleh Albert Gray, dalam pidatonya pada sebuah seminar di Amerika Serikat: "Successful people form habits of doing things that failures don’t like to do. They don’t like them either, but their disliking is subordinated by the strength of their purpose". (Orang sukses membentuk kebiasaan yang tidak disukai oleh mereka yang gagal. Orang sukses ini mungkin juga tidak menyukai kebiasaan tersebut, tetapi rasa tidak suka ini berhasil dikalahkan oleh kekuatan tujuan yang telah mereka tetapkan).
Contoh: Disiplin dalam waktu merupakan salah satu kebiasaan positif orang-orang sukses. Mereka menetapkan target hasil, dan dengan disiplin dalam waktu mewujudkan target yang telah ditetapkan. Untuk itu, mereka membiasakan diri untuk secara reguler menyediakan waktu menuliskan rencana kerja (tahunan, per semester, per bulan, per minggu, ataupun per hari). Rencana kerja disusun berdasarkan prioritas (mana yang paling penting dalam menunjang tercapainya target yang telah ditetapkan).
Karya Terbaik. Karya terbaik tidak bisa diukur dengan uang. Jadi, apapun pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita, kita perlu melakukan yang terbaik (tidak perlu menunggu sampai ada orang yang mau menghargai karya kita dengan nilai yang tinggi). Orang lain akan menghargai jika mereka sudah melihat hasil kerja kita. Jika kita hanya menunggu kompensasi terlebih dulu sebelum menunjukkan karya terbaik, orang tidak akan mudah percaya pada kita karena kita belum bisa memberikan bukti bahwa apapun yang kita lakukan adalah yang terbaik. Sebaliknya, jika kita selalu melakukan dan menunjukkan hasil karya terbaik mulai sekarang, maka orang akan percaya akan kualitas kerja kita yang prima, sehingga mereka nantinya tidak akan segan untuk memberikan kompensasi yang tinggi juga untuk karya kita yang berikutnya.
Prinsip ini juga dipegang teguh oleh Walt Disney, kaisar dunia hiburan. Dalam bisnis hiburan, para pemain biasanya sangat fokus pada uang untuk menghasilkan karya dengan kualitas terbaik. Tidak demikian dengan Disney. Dari awal, Disney mengedepankan kualitas terbaik di atas uang. Hasilnya? Setiap produk hiburan yang diluncurkan Disney selalu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, dan tentu saja sambutan ini mempersembahkan pemasukan uang yang luar biasa juga.
Investasi Kebaikan. Utang budi dibalas budi. Ini kata pepatah kuno. Pepatah ini agaknya tidak berlaku lagi sekarang. Kita tidak perlu menunggu sampai kita punya utang budi baik sebelum kita melakukan kebaikan. Justru biarkanlah kita membuat orang lain "berutang" budi baik pada kita. Dengan demikian, kita bisa membina hubungan baik dengan mereka dan merekapun akan dengan senang hati membantu kita tanpa kita minta, atau merekomendasikan kita pada orang lain untuk membantu kita, juga tanpa kita minta. Investasi pada perbuatan dan hubungan baik juga diterapkan oleh Oprah Winfrey. Dalam perjalanan karirnya, Oprah tidak pernah menunda untuk selalu berinvestasi kebaikan pada orang-orang sekitarnya. Kebiasaan ini jugalah yang memberinya inspirasi untuk memulai program TV nya yang terkenal "The Oprah Winfrey Show" yang menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia. Dengan investasinya pada kebaikan, banyak orang merasa tertolong dan mendapat manfaat setiap kali menonton acara ini. Orang-orang inipun merekomendasikan acara ini pada teman, kerabat mereka. Hasilnya: Acara TV Oprah mendapat peringkat tinggi di dunia pertelevisian.
Investasi Finansial. Seorang teman kami baru saja membeli rumah seharga Rp. 1,5 milyar. Apa kehebatan teman ini? Ia bukanlah pimpinan perusahaan. Ia juga bukan pemilik usaha. Ia juga tidak mendapat warisan (orang tua masih lengkap) ataupun memenangkan undian. Lalu, dari mana ia mendapatkan uang begitu banyak? Apakah ia ikut-ikutan melakukan korupsi? Karena kagum, penulis menanyakan rahasia "kekayaan finansial"nya tersebut?
Jawabannya sebenarnya tidak terlalu mengejutkan: dari uang investasinya dalam asuransi. Sejak muda (ketika ia masih berada di usia 25an), ketika ia baru saja masuk dunia kerja, ia sudah berinvestasi dalam beberapa asuransi yang mempunyai fitur tambahan sebagai tabungan. Setelah sepuluh tahun masa ‘menabung’ berlalu, sebagian uang asuransi yang telah beranak pinak dicairkan—sebagian diinvestasikan lagi dalam asuransi dan sebagian dalam rumah. Uang yang diperoleh dari asuransi dan penjualan rumah yang nilainya juga sudah berlipat, diinvestasikan kembali dengan cara yang sama. Lambat laun, jumlah rumah yang dimiliki makin banyak dan dana investasi dalam asuransinya juga makin meningkat, sampai akhirnya ia bisa membeli rumah dengan harga yang "wah" pada usia yang masih relatif muda (40 tahunan).
Mewujudkan Mimpi. Ingin beli rumah, mobil, laptop tercanggih; ingin memulai usaha sendiri; ingin berkeliling dunia? Mengapa tidak kita coba mulai sekarang untuk mewujudkannya. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, apa yang kita perlukan? Informasi, uang, dukungan moril, tenaga? Nah, paling tidak kita bisa memulai dengan mendata apa yang kita perlu lakukan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Setelah data kita peroleh, kita bisa menyusun rencana untuk memulai mengumpulkan atau melakukan hal-hal yang kita perlukan tersebut sekarang.
Tanpa kita sadari, dengan disiplin diri yang tinggi, satu persatu mimpi kita dapat wujudkan.
Seorang pekerja bangunan yang sederhana mempunyai "mimpi" yang bersifat rohani yang luar biasa, yaitu mendoakan orang-orang yang disekitarnya yang belum bertobat agar bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Untuk itu, ia tidak menunda perwujudan mimpi. Ia berguru pada banyak orang untuk mempersiapkan diri dan sesuai dengan usulan pemuka agama yang menjadi penasehatnya, ia lalu membeli buku dan membuat dua kolom: Kolom pertama berisi nama-nama orang yang akan didoakannya, sedangkan kolom kedua berisi tanggal orang tersebut bertobat. Setelah 40 tahun masa berlalu, hasilnyaluar biasa: daftar nama yang telah didoakan dan telah bertobat mencapai ribuan orang (sekitar 2000 orang lebih).
Apakah prinsip "Lakukan Sekarang" ini sudah menjadi atau akan kita jadikan prinsip hidup kita? Kita harus segera memutuskannya sekarang. Alasannya sederhana: It’s Now or Never. Jadi, jika ada pilihan untuk memulai sekarang, mengapa kita harus menunggu untuk memulai nanti? Selamat mencoba.

sumber: sinarharapan.co.id
0 Responses to "”It’s Now or Never!”"