5:04 AM

(0) Comments

Walter Elias Disney

The Team of Spirit

Ada satu gagasan yang selalu mengusik pikiran Walter Elias Disney, yaitu gagasan bekerja sendiri. Terutama karena ia mendengar bahwa sebagian karyawan akan tidak diperlukan bila musim sibuk berlalu. Ia gembira dengan prospek itu karena dua hal. Pertama, ia ingin berdiri sendiri, dan kedua, ia sangat ingin melakukan sesuatu yang baru dan orisinil, tidak hanya memenuhi keinginan bos dan para pelanggan.




The Wonderful World of Disney adalah gambaran seseorang yang telah berhasil mencapai segala sasaran cita-citanya. Kehidupan Walt Disney dapat diringkas dalam pedoman yang diikuti oleh semua orang kaya. “Barang siapa ingin sukses, harus bekerja berat, pantang menyerah, dan lebih mengikuti kegandrungan”.


Pada tahun 1985, Disneyland menyambut pengunjungnya yang ke-250 juta. Walt Disney yang besar, penerima 900 tanda kehormatan; 32 Oscar; lima Emmy; dan lima doktor honoris causa; perintis sejarah animasi, dan salah seorang manusia terkaya di dunia. Ia telah mewujudkan impian-impiannya jauh melebihi harapannya yang paling muluk.

Walt memulai usahanya dengan mendirikan agen seni periklanan bersama seorang temannya, Ube Iwerks. Pelanggan pertamanya adalah suatu rangkaian restoran. Disney dan temannya berhasil membuat kesepakatan dengan restoran untuk membangun bengkel kerjanya di bangunan restoran baru itu, tanpa membayar sedikit pun. Sebagai imbalan, mereka harus membuat poster-poster iklan untuk restoran tersebut.

Di samping bekerja untuk memenuhi kontrak, mereka bebas mengerjakan proyek lain. Untuk menarik pelanggan, Walt merancang suatu rencana khusus. Ia akan menawarkan jasa seninya ke suatu toko atau perusahaan atas dasar freelance, hubungan lepas. Kapan pun ada pekerjaan semacam itu yang harus dikerjakan, Walt dan temannya siap memberikan jasanya kepada perusahaan. Dalam waktu singkat, cara kerja semacam itu memungkinkan Walt dan temannya menabung cukup banyak uang yang tak mungkin dikumpulkannya andaikan hanya bekerja pada satu perusahaan saja.

Bisnis ini tampak memberikan harapan besar. Tetapi, Walt tergiur untuk mencoba memenuhi impian sejak masa kenak-kanaknya, yaitu membuat animasi kartun. Disney akhirnya bergabung dengan KC Film Ad Company yang memegang tanggung jawab atas segala aspek iklan film. Perusahaan menyadari kemampuan kartunis muda ini, sehingga tak lama sesudah mulai bekerja, Walt diberi tugas membuat poster seorang pria yang mengenakan topi mode mutakhir. Walt menggambar poster itu, tetapi hidung orang tersebut digantikan dengan gambar bohlam! Ketika poster itu ditampilkan di layer, bos berseru: “Akhirnya muncul sesuatu yang baru di tempat ini. Saya sudah bosan dengan wajah-wajah cantik ini.”

Keorisinilan dan visi Walt tentang barang-barang di sekelilingnya membuat beberapa teman dan atasan kurang senang. Mereka iri dan menganggapnya pengacau. Oleh sebab itu, mereka tidak mau membiarkannya mencoba suatu teknik baru untuk menyempurnakan kartun-kartunnya. Ia mempunyai gagasan cemerlang, membuat beberapa lukisan dan seluloid, lalu memotret dan menumpuknya, dan akhirnya memfilmkannya. Namun, pimpinan tak mau mendengarnya. Mereka merasa, cara kerja yang lama sudah cukup memberikan hasil sampai saat itu. Mereka tidak melihat alasan untuk mengubah teknik-teknik mereka, karena dengan cara itu pun para pelanggan sudah puas. Walt Disney tahu bahwa ia benar. Setelah berbulan-bulan membujuk bosnya, Walt akhirnya diperbolehkan membawa pulang salah satu kamera perusahaan untuk melakukan beberapa percobaan.

Di sebuah garasi kosong yang sudah dirombak jadi studio, lelaki kelahiran Chicago, 5 Desember 1901 itu mulai membuat film-film animasi pendek dengan menggunakan teknik hasil rekaannya. Ia kemudian memperlihatkan hasilnya kepada seorang pemimpin bisokop terkenal. Orang itu sangat terkesan. Sketsa-sketsa dan teknik film Walt sangat berbeda dengan yang sudah-sudah. Film kartunnya yang pertama segera diputar di bioskop-bioskop.

Semula kartun-kartun ini dimaksudkan untuk menggantikan iklan-iklan agar penonton terus menikmati apa yang muncul di layar, selama selang waktu. Walt menyebut film-film itu “Laugh-O-Grams”. Film-film kartun Walt disenangi penonton dan sejak itu di Kansas City, Walt Disney tidak lagi diejek sebagai si orang muda eksentrik, tetapi disegani. Gajinya naik. Dalam waktu singkat, Disney menjadi orang terkenal di kota itu.

Ia mengembalikan kamera yang dipinjamnya dan membeli kamera sendiri dengan uang simpanannya. Film-film kartun menjadi semakin populer. Walt Disney menyewa ruang kantor yang lebih luas untuk usaha kecilnya, Laugh-O-Grams Corporation dengan modal awal $15.000. Ia mempekerjakan beberapa magang dan seorang salesman untuk mempromosikan Laugh-O-Grams di New York City. Impiannya untuk mandiri menjadi kenyataan pada waktu ia baru berumur 20 tahun.

Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari KC Film dan bekerja sendiri sepenuhnya. Tetapi, sukses tidak terjadi begitu saja. Biaya produksi tinggi dan sikap perfeksionis Walt Disney (yang membuatnya menanamkan kembali semua uangnya untuk memperbaiki hasilnya), di samping pasaran yang sangat terbatas, segera mengakibatkan kebangkrutan.

Ini merupakan masa suram dalam hidup Walt Disney. Ia tidak memiliki uang sedikit pun dan terpaksa tinggal di bengkel. Makan dan tidur di sebuah bangku kecil, satu-satunya perabot yang ia miliki. Lebih buruk lagi, sekali seminggu ia harus pergi ke stasiun kereta api untuk mandi.

Akhirnya ia berhasil mendapatkan kontrak pembuatan kartun animasi untuk mendidik anak-anak tentang pentingnya menyikat gigi. Pada suatu malam, dokter gigi yang memesan kartun ini datang menemuinya dan mengajaknya ke kantornya. “Tidak bisa,” jawab Disney. “Mengapa?” tanya dokter itu. “Karena saya tidak punya sepatu. Satu-satunya sepatuku ada di tempat tukang sepatu untuk direparasi, dan saya tidak punya uang untuk mengambilnya.”

Meski menghadapi keadaan yang serba menyusahkan. Walt Disney tidak putus asa. Ada sebuah gagasan di otaknya. Pada suatu malam bulan Juli 1923, dengan membawa semua uang di dalam saku baju setelan tuanya dari kain minyak berwarna abu-abu, pemuda kurus kering ini naik kereta api menuju Hollywood. Ia bertekad kuat untuk menjadi orang penting dalam dunia perfilman.

Ketika tiba di Hollywood, Walt Disney hanyalah satu di antara banyak orang yang mengharapkan terwujudnya cita-citanya. Kakaknya, Ray, tinggal di California beberapa waktu lamanya, dan ia dengan senang hati mengundang adiknya tinggal di rumahnya. Walt mulai mengunjungi studio-studio film. Ia bersedia bekerja apa saja, asal ada hubunganya dengan perfilman.

Untuk maju dalam suatu bidang keahlian khusus, orang harus masuk ke dalamnya, apa pun pengorbanannya. Disney menyadari, betapa sulitnya masuk ke studio-studio film Hollywood. Sebelum dirinya, banyak orang lain yang melamar kerja, tetapi ditolak. Namun, ia tidak patah semangat. Kalau ada orang lain yang berhasil masuk, mengapa ia tidak? Di matanya, ada dua macam orang: Mereka yang merasa kalah dan terlantar bila tak bisa menemukan pekerjaan dan mereka yang dapat mencari penghasilan dengan cara apa pun dalam masa sulit. Disney selalu berusaha keras agar termasuk dalam golongan kedua.

Pengalaman mengajarkannnya bahwa orang harus sepenuhnya mengandalkan diri sendiri. Ia kembali ke papan gambar dengan kemauan keras untuk mencari tempat bagi dirinya. Ia menggambar film-film komik untuk dijual kepada pengusaha bioskop. Ada seorang pemilik gedung bioskop yang begitu tertarik, sehingga membeli berseri-seri film komik. Ia bahkan memesan rangkaian cerita Alice in Wonderland yang mulai dibuat oleh Walt Disney di Kansas. Kepada Disney ditawarkan uang $1.500, jauh lebih besar dari yang diharapkannya. Rangkaian seri Alice in Wonderland ini diputar berurutan sampai tiga tahun. Dari hasil penjualannya, Walt Disney bisa membeli rumah, bahkan membangun studio film sendiri. Sesudah film Alice in Wonderland, Walt menciptakan makhluk kecil cerdik yang disebutnya “Mickey Mouse”, nama yang diberikan oleh istri Disney, Lillian Bounds. Mickey Mouse dengan cepat menjadi bintang tenar di seluruh dunia, bahkan lebih terkenal daripada banyak bintang Hollywood. Meski demikian, para produser awalnya menyambut kedatangan Mickey dengan kurang bersemangat.

Ketika itu, film berbicara mulai muncul dan orang memboikot film bisu. Disney pun bereaksi. Bersama kelompok pembantunya, ia memperkenalkan suatu metode baru untuk mensinkronkan suara dan animasi. Walt terus mencari teknik-teknik baru untuk memperbaiki kemahirannya. Ia menerapkan pula proses teknik warna yang baru. Dengan teknik baru ini, ia tak perlu lagi menggunakan kombinasi dua warna. Dalam film Bambi, ia menggunakan 46 rona warna hijau untuk hutannya. Kartun berwarnanya yang pertama, Silly Symphony, membuat para penggemar film kegirangan.

Disney makin menyadari, kalau ia mau terus berkarya dengan skala yang lebih besar, ia harus membangun suatu kelompok berotak cerdas. Artinya, ia harus mengelilingi dirinya dengan asisten-asisten pintar, yang mampu menawarkan produk bermutu. Untuk memantapkan diri, ia harus melatih sendiri para asistennya.

Disney merasa, para kartunis yang bekerja padanya terlalu sering menggunakan cara-cara tipu daya kuno. Satu-satunya cara mengubah keadaan ini adalah dengan membuat kursus-kursus latihan bagi mereka. Tujuannya, memperbaiki mutu lukisan dan teknik animasi. Ketika perusahaannya semakin besar, ia memutuskan pada 1930 untuk mendirikan sekolah sendiri, tempat ia mengajarkan segala teknik animasi kartun kepada calon-calon kartunis. Sekolah itu segera tampak seperti kebun binatang. Soalnya, untuk membuat tokoh-tokoh kartunnya lebih realistik, Disney mengubah ruang kelasnya menjadi laboratorium biologi kehidupan nyata dengan berbagai binatang. Hewan-hewan itu diamati oleh para siswa dalam aneka perilaku dan sikapnya. Pengamatan ini akan membantunya pula untuk membuat film-film dokumenter tentang keajaiban alam pada masa mendatang. Pada 1938, Disney memperkenalkan film animasi panjang tajuk karangannya yang pertama, Snow White.

Tidak lama sesudah itu, ia membangun studio film modern di Burbank, California, dan mempekerjakan 1.500 tenaga..Disney tampaknya telah mencapai apa yang diimpikannya. Setahap demi setahap, ia menjadi apa yang diinginkannya dahulu. Ia hanya bekerja dengan baik kalau ada hambatan yang harus diatasi. Ia khawatir bila segala sesuatu berjalan terlalu lancar, terjadi perubahan mendadak dalam situasi ini.

Setelah Perang Dunia II, Ray dan Walt Disney menerima beberapa kontrak dari ketentaraan untuk membuat film dokumenter dan poster perang. Usai, perang, Disney Studios makin sibuk, dan Walt semakin mencurahkan perhatiannya pada keahlian seninya. Ia sering bekerja sampai larut malam. Konon, ia sering membongkar-bongkar keranjang sampah kertasnya untuk melihat isinya. Katanya, potongan-potongan kertas ini seringkali mengandung gagasan besar. Pada masa itulah Walt Disney menciptakan film-film besarnya, seperti Cinderella, Peter Pan, dan Bambi.

Pada 1950-an, impian fantasmagorik Walt Disney-Disneyland mulai berkembang. Semua temannya, terutama bankir-bankirnya, menyatakan bahwa proyek ini gila-gilaan. Namun, ketika Walt Disney akhirnya memutuskan untuk proyek tersebut, tak ada seorang pun atau apa pun dapat mengubah keputusannya. Sekali lagi, Disney menunjukkan bahwa impian manusia dapat menjadi kenyataan. Gagasan menciptakan Disneyland muncul, ketika ia berjalan-jalan di taman dengan kedua putrinya, Sharon dan Diana. Ia membayangkan sebuah taman wisata sangat luas tempat anak-anak dapat bertemu dengan tokoh kartun yang mereka sayangi.

Disneyland akhirnya terwujud di Anaheim, California, pada 1955. Hari itu merupakan hari besar bagi Walt Disney. Ia berkata, andaikata ia tidak mendengarkan dirinya sendiri, tamannya ini tidak akan selesai. Inilah, akhirnya, sesuatu yang dapat ia sempurnakan terus-menerus.

Sumber : Buku pintar tokoh-tokoh bisnis
0 Responses to "Walter Elias Disney"