8:39 PM

(0) Comments

Jalan Mudah Yang Menjebak Entrepreneur

The Team of Spirit

Apa salah satu godaaan terbesar bagi mereka yang sedang mulai merintis usaha? Kalau menyimak penuturan Agus Suprijadi, bos Yogyes.com, adalah godaan untuk bekerja menjadi karyawan.

Ia merintis usaha hanya berbekal uang enam ribu rupiah pada tahun 2000, separonya habis untuk beli bensin, separonya untuk buat proposal yang ia tawarkan ke berbagai hotel di Jogjakarta. Amat sulit meyakinkan pelaku industri pariwisata Jogja agar bergabung di portal pariwisata asli Kota Gudeg itu. Di saat sulit, tanpa uang, tanpa kepastian masa depan, tawaran bekerja berdatangan. Tanpa mental bisnis, ia sudah pasti akan menerima tawaran itu. “Kalau ingin menjadi pengusaha, harus tangguh,” katanya pada seminar Being a Dotcomer di Jogja Sabtu, 31 Mei 2008 kemarin.

Jelas ia tolak kesempatan itu, meski ia dalam posisi amat butuh uang menunjang hidupnya. Ia memilih bertarung melawan diri sendiri. Dan kini ia memetik hasilnya: Yogyes.com menjadi portal wisata terbesar di Jogja, dan mendapat pujian dari koran dunia The Washington Post, sebagai portal yang wajib dikunjungi sebelum berwisata ke Jogja. Pundi-pundi rupiahnya semakin banyak, sehingga ia berani membeli mobil baru yang kemudian diberi logo Yogyes.com, sebagai media promosi berjalannya.

Jika anda orang kaya, atau anak orang kaya, barangkali agak sulit membayangkan kekerasan hati Agus. Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada ini perantauan dari Bangka Belitung Medan, yang selama kuliah menghidupi dirinya sendiri. Ia harus menjaga irama antara kuliah dan hidup. Kekerasan itulah yang membentuknya untuk tangguh memilih jalan sebagai pengusaha. Ia mampu melewati godaan-godaan untuk cepat berhasil mendapatkan uang. Ia, antara lain, menolak menjadi orang gajian.

Lebih dari itu, ia juga berhasil menolak godaan berupa jalan mudah lain: suap. Ia menolak praktik suap-menyuap untuk mendapatkan proyek. “Sekali kita melakuan hal itu, kita tidak akan pernah membangun kompetensi menjadi yang terbaik,” katanya.

Saya sepakat soal itu. Sekali kita membangun jalan mudah mendapatkan rezeki dengan suap, maka kita akan melupakan upaya membangun kompetensi kita sendiri. Kita bisa abai terhadap kualitas layanan dan jasa kita karena merasa sudah menyumpal mulut klien dengan uang suap. Kompetensi yang kita kembangkan akhirnya bukan kompetensi untuk kualitas, tetapi kompetensi untuk menyuap. Mereka yang terjebak di sini akan menjadi usahawan yang tanpa kompetensi. Begitu pasar dibuka, suap diberangus, mereka akan hilang dari peta persaingan.

Saya jadi teringat kisah Paulus Bambang, Vice President Director PT United Tractor ketika membangkitkan perusahaan tersebut dari keterpurukan. Kecuali melakukan langkah-langlah strategis, perusahaan juga melarang praktik-praktik suap yang sudah biasa terjadi di dunia pertambangan. Semula, langkahnya melarang suap ditertawakan banyak orang. Namun, hasilnya luar biasa. United Tractor bisa berubah jadi penyedia alat-alat berat menjadi perusahaan solusi untuk pertambangan. Sudah begitu, perusahaan mampu lolos dari jebakan kerugian dan kebangkrutan. Bahkan, perusahaan publik itu berhasil mencatat pertumbuhan penjualan dan laba yang luar biasa tahun lalu.

Saya sendiri termasuk yang keras dalam hal suap. Pernah pernah menolak mengerjakan sebuah proyek yang kami menangkan hanya karena masalah suap. Saya memilih mundur dan kehilangan peluang mendapatkan proyek yang nilainya cukup besar untuk ukuran perusahaan saya. Hati saya kecewa waktu itu, karena kehilangan profit dan cashcow yang bagus. Tapi sekarang saya justru senang, karena dengan menghindari jalan mudah itu, tim saya makin bagus, kesempatan kami mengerjakan proyek lain yang bersih dari suap makin banyak. Rejeki kami tidak kurang.

Dalam dunia usaha, banyak jalan mudah untuk kaya dan berlimpah uang. Tapi jalan mudah seringkali menjebak. Pindah haluan, suap, dan banyak lagi jalan mudah lainnya (misalnya menipu dan memberi janji-janji sorga kaya mendadak tetapi sesungguhnya kita hanya mengeruk uang mereka yang terpesona janji cepat kaya), memang cara cepat menjadi kaya. Namun Agus berhasil menunjukkan, tanpa jalan mudah ia berhasil membangun bisnis yang menarik. Sementara Paulus Bambang bukan hanya berhasil mengubah dari rugi menjadi laba, bahkan membangun United Tractor wajah baru sebagai perusahaan solusi dengan penjualan Rp 18 triliun (delapan belas triliun rupiah) pada tahun 2007.

Di tengah munculnya tantangan baru (kenaikan harga minyak, kenaikan harga barang modal, kenaikan gaji karyawan, penurunan daya beli masyarakat), inilah momentum untuk makin berkeras hati membangun kompetensi perusahaan dan tim agar perusahaan makin memiliki daya saing yang bagus dan solusi yang makin prima.

Saya jadi teringat sebuah kalimat menarik — entah siapa yang membuatnya. “Jika anda lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada anda. Sebaliknya, jika anda keras pada diri sendiri, dunia akan lunak kepada anda”.

Sumber: www.sudutpandang.com
0 Responses to "Jalan Mudah Yang Menjebak Entrepreneur"