8:38 PM

(0) Comments

Mengapa Berani Meninggalkan Zona Mapan?

The Team of Spirit

Itulah salah satu pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa Magister Management Executive di STMB (Sekolah Tinggi Manajemen Bisnis) Bandung, ketika saya diundang menjadi dosen tamu mata kuliah Entrepreneurship, Jumat pekan lalu, 29 Februari 2008. Saya memang memaparkan, bahwa saya bukan pengusaha tulen. Saya adalah profesional yang memberanikan diri terjun menjadi pengusaha. Sebelum menjadi usahawan, jabatan saya adalah Direktur Marketing dan Information Technology Detikcom.

Saya menjadi direksi Detikcom selama lima tahun, sejak 1998 hingga desember 2002. Direksi sebuah bisnis dotcom terakbar di negeri ini jelas posisi yang mapan. Pada tahun 2003, Detikcom sudah menjadi satu-satunya pemain dotcom yang lolos jebakan kehancuran dotcom di Indonesia. Pemain lain, seperti Astaga.com, Satunet.com, Kopitime.com dan lainnya sudah terseret arus kehanduran bisnis dotcom yang melanda seluruh dunia, mulai dari Amerika Serikat, Hongkong hingga Singapura, yang merembet juga ke Indonesia. Praktis, setelah itu Detikcom melenggang sendirian, menguasai pasar iklan dotcom. Aman. Mapan. Enak.

Lalu, kalau enak, kenapa ditinggalkan dan memilih dunia yang lebih keras dan tidak pasti, yakni dunia kewirausahaan alias entrepreneurship? Mengapa berani pindah ke kuadran yang berisiko tinggi? Itulah inti pertanyaanya. Sebagai catatan, saya diundang memberikan kuliah tamu karena tema kuliah saat itu adalah untuk memahami sosok usahawan.

Jujur saja, saya kesulitan menjawab pertanyaan yang tidak saya sangka-sangka tersebut. Bisa jadi, saya sendiri memiliki benih-benih kewirausahaan yang melekat dalam diri saya sendiri tanpa saya sadari, sehingga selalu tertantang untuk memulai usaha. Jadi, saya memang memiliki passion di sini. Bisa jadi karena jenuh berada di puncak sebagai eksekutif. Atau bisa juga faktor-faktor lain.

Namun yang jelas, faktor utama yang akhirnya memaksa saya pindah kuadran pada tahun 2003 adalah mitos umur.

Banyak yang bilang, umur 40 adalah masa keemasan seorang lelaki. Setelah itu, surutlah keperkasaannya.

Saya juga termakan mitos bahwa butuh waktu minimal dua tahun untuk membangun usaha agar usaha itu menunjukkan tanda-tanda berhasil.

Maka dua tahun sebelum usia 40 tahun itulah saya memutuskan mundur sebagai eksekutif dan memilih menjadi pengusaha.

Saya menutup mata terhadap godaan hidup nikmat, karir enak, zona nyaman, dan sejenisnya yang terhampar di depan mata seandainya tetap bertahan sebagai profesional.

Anda yang sudah pindah kuadran ke pengusaha, bisakah membantu menjawab pertanyaan ini? Kenapa Anda berani pindah dari zona mapan?

Sumber: www.sudutpandang.com
0 Responses to "Mengapa Berani Meninggalkan Zona Mapan?"